Se-menggiurkan marshmallow bagi balita

Jika diminta menyebutkan salah satu keterampilan hidup yang penting yang mesti kita kuasai, atau yang mesti para orang tua ajarkan pada anaknya, maka aku akan menyebut “pengendalian diri”.

Jadi inget eksperimen marshmallow pada anak-anak usia empat tahun yang melegenda itu. Eksperimen yang dilakukan psikolog Walter Mischel dari Standforf University pada tahun 1970-an. “Permenmu bisa dimakan sekarang kalau kamu mau. Tapi, kalau tidak makan permen itu sampai aku kembali dan mengerjakan suatu tugas, kau bisa mendapatkan dua lagi saat itu”. Pengendalian diri adalah capaian besar bagi anak empat tahun.

Kejutan besarnya:  analisis statistik menemukan bahwa tingkat pengendalian diri seorang anak merupakan alat yang sangat akurat dalam memperkirakan kondisi keberhasilan finansial dan kesehatannya saat dewasa nanti (juga catatan kejahatannya), begitu pula kelas sosial, atau IQ [1].

Sebagai seorang muslim, dan dalam lingkup yang lebih besar, mungkin aku akan menyebut pengendalian diri sebagai ketakwaan. Ya kan? Kamu bisa melanggar aturan Allah sekarang kalau kamu mau. Tapi kalau kamu menahan diri untuk tidak melakukannya, kamu bisa mendapatkan pahala yang besar dan kebahagiaan. Kamu hanya perlu mengendalikan dirimu. Hanya perlu bersabar sebentar.

Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad).

 

[1] Daniel Goleman dalam bukunya, Focus: Pendorong Kesuksesan yang Tersembunyi

 

Advertisements

Belajar Empati

img_20161127_193251
sumber gambar: jubah akhwat

Habis baca Al A’raf 34-53 ada perasaan nano-nano dalam dada.

Ada rasa syukur telah mendapat hidayah islam dan sunnah. Manis sekali rasanya, just the most beautiful thing in my life. Tapi ada rasa takut juga karena ending hidup tiap orang kan gak ada yang tau, apakah diwafatkan sebagai orang yang beriman atau tidak.  Yaa muqolibal qulub, tsabit qalbi ‘ala diinik…

Ada rasa lain juga yang ditimbulkan dari ayat itu. Ada rasa iba dan empati pada teman-teman atau orang-orang yang belum dianugerahi hidayah Islam. Kasihan dengan kesudahan mereka yang dikabarkan oleh Al Qur’an kelak di akhirat, jika sampai akhir hidup belum bertaubat. Aku tidak tau caranya, tapi rasanya ingin berbagi agar mereka juga merasakan manisnya menyembah Allah saja, satu-satunya Dia sebagai tempat bergantung, tiada sekutu bagiNya. Aku tidak tau caranya, tapi rasanya ingin agar mereka terhindar dari kebingungan, ingin mereka merasakan ketenangan dan kejelasan yang terang benderang bahwa Tuhan yang berhak disembah dengan benar hanya satu saja, Allah. Yaa Allah, namun Engkau Maha Adil, Engkau mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui.

Coba tumbuhkan rasa kasih sayang, rasa welas asih pada mereka.

Ajak mereka, sentuh hatinya, raih tangannya dengan kasih sayang, bukan paksaan.

Sebarkan rasa syukur dan manisnya iman yang kamu punya.

Jangan mau selamat sendiri.

Seperti welas asih nya imam syafi’i dalam perkataannya, “andai hidayah itu bisa dibeli, akan kubeli berkeranjang-keranjang agar bisa aku bagi-bagikan kepada mereka yang aku cintai.”

Mudah-mudahan Allah anugerahi mereka hidayah. Mudah-mudahan kita bisa turut andil menjadi wasilahnya, jika tidak, mudah-mudahan lewat anak-anak yang kelak kita didik untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, in syaa Allah. Sungguh butuh kerja-kerja nyata, kesabaran dan konsistensi. Seperti anak-anak dalam buku di bawah ini *PR dan tamparan buat yang nulis.

img_20161127_215329

Keadaan menuntut kita menjadi individu-individu yang sanggup memikul tanggung jawab dakwah kepada Allah dan perbaikan masyarakat. Setiap muslim pada hakikatnya adalah pengganti Rasulullah yang wajib menyampaikan dakwah. Apabila tanah menyerap air, tapi tidak menumbuhkan buah-buahan, berarti tanah itu tandus. Nashir Syafi’i dalam “Bocah-bocah pembawa hidayah”.

WMU, 27 November 2016. 21:32

 

 

Aku lebih menyukai saat bersama seseorang yang karena keluasan ilmunya membuatku merasa ‘belum tau apa-apa’ dan kemudian membuatku lebih bersemangat untuk terus menerus melakukan perbaikan daripada seseorang yang terlalu sering memuji lalu akhirnya membuatku terlalu cepat berpuas diri.

karna, aku merasa, salah satu hal yang menakutkan adalah saat kita santai-santai saja atau bahagia-bahagia saja karena kita tidak tau atau tidak menyadari ada sesuatu yang salah, dan sesuatu itu ternyata super penting. Makanya ada idiom ignorance is bliss’, iya kan?

 

Belajar dari mereka yang bukan muslim sejak lahir

closeup-of-a-book-of-quran-mushaf-photos-books-of-quran-001
hidayah is the most precious gift. 

*tulisan ini pernah saya post di tumblr 9 bulan yang lalu. hari ini niat memindahkan tulisan tumblr dan mengumpulkannya jadi satu blog saja, disini. walaupun masih ngumpulin hati buat ngehapus tumblr yang penuh kenangan itu. huft

***

malu rasanya tiap habis membaca, mendengar, atau menonton kisah saudara-saudari kita yang bukan muslim atau muslimah sejak lahir. malu saat membandingkan effort mereka dengan effort saya. beberapa karakter yang saya suka dan saya ambil pelajaran dari mereka :

1. Belajar Islam dengan semangat dan antusiasme yang besar, terstruktur, juga berusaha mencari sumber yang otentik, dari Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman sahabat-sahabat rasulullah yang shalih. karena pemahaman orang dalam memahami hadits bisa beda-beda, dan orang yang pemahamannya paling baik untuk diikuti dalam hal agama ya sahabat-sahabat rasulullah. kita yang berabad jarak dari rasulullah mah apa atuh.hehe

kagum dengan effort mereka, tapi tetep all praises are belong to Allah karena hidayah dan taufiq itu Allah yang menganugerahi. contohnya saat saya membaca kisah DR. Bilal Philip. Alumni Universitas Islam Madinah dan pendiri Islamic Online University (IOU). Beliau menjadi mualaf di usia remaja setelah sebelumnya pernah berpaham marxisme, komunis tulen.

kagum juga dengan cerita Mark Abdul aziz (https://www.youtube.com/watch?v=o7U_ODRi9Z8 ) , mualaf Prancis yang semangat banget belajar agama. belajar huruf hijaiyah cuma 4 jam, trus lancar banget ngomong bahasa arabnya saat usia keislamannya baru lima tahun! kece bingiits….. nangis lah nontonya. aku ngapain aja selama ini -_-

2. serius banget berdakwah. setelah merasakan manisnya iman dan islam, setelah mempelajari ilmu, tentunya mereka ingin orang lain merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. mereka ingin orang tua dan keluarga mereka mengucap syahadat. lagipula dakwah juga menjaga keimanan. dakwah sesuai situasi, sesuai bakat yang dimiliki. misalnya situasi yang dihadapi oleh muslim eropa, amerika, dan australia, adalah islamophobia dan sedikitnya jumlah muslim. maka muslim disana berusaha banget buat jihad againts ignorance, dakwah tauhid, menyebarkan konsep “one God”,dll. nah kalau situasi di Indonesia? lebih riweuh. eng ing eng… silahkan dipikirkan sendiri, rasanya kurang etis saya beropini disini (like, siapa sih saya?)

ada yang bakatnya di linguistik dan filmografi, jadilah video-video dakwah yang ciamik kayak punya nya brother Kamal shaleh di talk-islam (eh tapi ngga tau deng beliau mualaf atau bukan). “the meaning of life” :  https://www.youtube.com/watch?v=H1qjvyF59c8 atau “nothing to do with my prophet” :  https://www.youtube.com/watch?v=dQVMdh6d3h0

ada juga seorang akademisi -aduh saya lupa namanya- yang mendirikan sebuah institut research yang tujuannya dakwah againts islamophobia. 

jadi menimbulkan kembali pertanyaan, sudah berapa banyak saya menggunakan potensi-potensi yang Allah beri untuk berdakwah? saya islam sejak lahir, sudah merasakan manisnya iman dan sunnah, merasakan kemudahan belajar agama, tapi apa yang sudah saya lakukan untuk agama saya? T_T

3. tabah saat menjadi berbeda. tabah saat masyarakat menuduh dengan tuduhan yang tidak benar. muslimah berjilbab, muslimah bercadar, muslim berjenggot, muslim memakai celana di atas mata kaki, masih dianggap sebagai atribut yang ‘membahayakan’. ya, tuduhan terebut berasal dari pemikiran yang belum terpapar dengan ilmu. belum mengerti, belum tahu, belum paham mengapa muslim muslimah seperti itu. maklumi aja 🙂

ah, saya masih perlu belajar lagi dan lagi…

betapa bahagianya, yang menangis saat mendengar bacaan al qur’an karena paham artinya. karena memahami tafsirnya. mentadaburi dan tergerak untuk mengamalkan.

betapa sedihnya, yang menangis saat mendengar bacaan al qur’an karena tidak mengerti artinya. yang mencintai tapi tidak mampu berkomunikasi

WMU,  21/06/16, 22:53 WIB

Sebagian ulama bani israil mengatakan, “wahai Tuhanku, berapa banyak aku bermaksiat padaMu dan Engkau tidak menghukumku!” maka dijawab, “berapa banyak Aku menghukummu, namun engkau tidak tahu! Bukankah Aku telah menghalangimu dari nikmatnya bermunajat kepadaKu?”

Maka barangsiapa yang mencermati jenis hukuman ini, niscaya dia dapati jenis hukuman ini sudah menantinya. Berapa banyak orang yang menjadikan pandangannya liar, lalu Allah mengharamkan mata hatinya untuk bisa mengambil pelajaran. Atau orang yang tak mengendalikan lidahnya, lalu Allah menghalanginya dari kejernihan hatinya. Atau lebih mendahulukan hal yang syubhat dalam makanannya, lalu hatinya menjadi gelap, tak bisa mendirikan shalat malam dab terhalabg dari manisnya munajat…dan hal lain yang serupa.

Ini adalah hal hal yang diketahui oleh orang yang biasa menginteropeksi dirinya.

Orang-orang bijak berkata, “maksiat setelah maksiat merupakan hukuman dari maksiat. Sedangkan kebaikan setelah kebaikan merupakan pahala dari kebaikan”.

Diambil dari : Shaidul khathir oleh Ibnul Jauzi

Wahai Anakku Tidak Apa-Apa Ya Kita Sedikit Berbeda!

Kiki Barkiah

Hidup memang pilihan, dan setiap pilihan memuat konsekuensi tersendiri. Terkadang sebagai orang tua, saya memilih harus menjadi berbeda dengan pilihan kebanyakan orang, terutama dalam memilih semua hal yang berkontribusi dalam membangun pola pikir dan pola sikap anak-anak. Memang kadang menjadi berbeda itu melawan kenyamanan, hanya saja saya selalu teringat bahwa kelak di yaumul akhir kita akan ditanya dan menjawab sendirian. Begitu pula saya akan mempertanggungjawabkan peran saya sebagai orang tua.

Wahai anakku…… tidak apa-apa ya kita sedikit berbeda, tapi kita masih bisa bersatu untuk beberapa hal yang sama.

Ali (10 y) memang merasa “gak nyambung” mendengar pembicaraan teman-teman di school bus yang bercerita tentang games-games popular di kalangan mereka. Ali memang tidak bermain pattlefield 4 atau call of duty, games peperangan yang tengah populer. Apalagi GTA, games rating dewasa yang menembus pasar Indonesia, yang menjadi favorit anak-anak Indonesia yang hobi “nongkrong” di warnet. “Tidak apa-apa ya nak…. Kita sedikit berbeda”…

View original post 738 more words

dandelion

15494867593_e68ee3a459_z
sumber: farm8.staticflickr.com/7555/15494867593_e68ee3a459_z

 

Aku suka cara Allah menunjukkan banyak hal sehingga aku merasa aku tidak akan kekurangan teladan. bukan hanya melalui kisah-kisah muslim generasi awal Islam yang sungguh ajaib, atau kisah para ulama yang luar biasa jenius nan tawadhu, tapi juga lewat teladan-teladan yang dekat dan terjadi “hari ini”.

lewat seorang dosen favorit yang kabarnya sebentar lagi akan pensiun. bolak-balik naik turun tangga dan berjalan kesana kemari pasti membuat beliau yang sudah “sepuh” ini kelelahan. datang tepat waktu, pulang hampir larut, sangat sabar mendidik dan meng-acc pekerjaan para ko-as satu persatu.

lewat kesederhanaan dan akhlak baik seorang kawan yang selalu dan terlalu merendah padahal ia adalah hafizah, peraih skor sbmptn tertinggi nasional, dan di beberapa semester IP nya empat.

lewat sepasang mata yang berkilat-kilat saat memberikan penjelasan. dulu, itu adalah sepasang mata seorang atheis, namun kini mata itu milik seorang muslim yang begitu passionate menjelaskan pada dunia tentang keindahan Al Quran juga memesonanya bahasa arab, dan mengubah hidup banyak orang lewat ceramah-ceramahnya di YouTube.

lewat keberanian dan kepercayaan diri anak kecil yang suatu ketika berkata pada muazin di masjid “kek, aku aja yaa yang azan!” , “kek aku yang iqamah!”

lewat seorang wanita yang meninggal di perjalanan untuk mengajar tahfidz, dan ia meninggal dalam keadaan mengenakan pakaian yang syar’i, menutup aurat dengan sempurna.

lewat bapak-bapak penjual rujak yang membagikan buah-buahan dingin secara gratis setiap selepas shalat jum’at. atau lewat pak kepala polisi di suatu daerah yang menggotong korban tabrak lari dengan tangannya sendiri, membayar biaya perawatan dengan uangnya sendiri. kemudian saat ditanya mengapa buru-buru meninggalkan rumah sakit, pak polisi itu menjawab “mengejar shalat ashar berjamaah di masjid”.

dan lewat setiap muslim dan muslimah yang membuat impact, yang berusaha menjadi bermanfaat untuk orang lain melalui potensi apapun yang mereka miliki. Sehingga planet bernama bumi ini menjadi tempat yang lebih baik dengan adanya mereka

cermin

saudarimu bagaikan cermin bagimu. cermin selalu jujur menampakkan refleksi yang apa adanya tentang dirimu. alasan apapun yang kamu buat, gambaran dirimu tetaplah yang terpantul di cermin itu. ya, itulah gambaran dirimu, apa adanya. jadi, jangan pecahkan cerminnya. terima saja, dengan penerimaan yang baik. tugas cermin adalah memantulkan gambaran tentangmu, sedangkan tugasmu adalah melihat dengan sudut pandang yang baik.

mungkin Allah sedang ingin menasihati atau mengingatkan kita, lewat saudari kita, secara sadar atau tanpa ia sadari. jadi, milikilah sudut pandang yang mampu menangkap tanda-tanda itu semua.

bersabarlah, bersemangatlah, dan jangan pecahkan cerminnya…

*a note to myself